Musica
dall'Italia
Carlo Zappa, Conductor
Christopher Abimanyu, Tenor
Usmar Ismail Hall
Rasuna Said, Kuningan
20-21 Oktober 2006
19.00 WIB
Babak I
Overture dell’Opera L’Italiana in Algeri - Rossini
Sinfonia in Do Maggiore Jupiter - Mozzart
Babak II
Sejuta Bintang - Ismail Marzuki
Cintaku Jauh di Pulau - F.X. Soetopo
"Nessun Dorma" dell'opera Turandot - Puccini
Sinfonia in Sol Minore, Haffner - Mozzart
Invitation
Dalam rangka ulang tahun
The Jakarta Symphony yang ketujuh, kami ingin merenungkan perjalanan
musikal kami di tengah-tengah ketakutan manusia akan benturan
peradaban pada tingkat dunia dan bencana alam yang bertubi-tubi
menimpa bangsa Indonesia. Musik dapat menjadi mata air yang dapat
mengalirkan nilai-nilai universal yang menyegarkan hidup bersama.
Semoga langkah ini dapat meningkatkan kedalaman pengertian dan rasa
musikal dan di lain pihak dapat mendekatkan diri pada ‘wajah manusia’
dengan suka dan dukanya. Pendek kata ada dua motif: yang pertama
musikal-kultural dan yang kedua adalah kemanusiaan.
Perlu digarisbawahi peran unggul dari tradisi musik Itali sebagai
cikal bakal musik klasik. Karena itulah kami ingin merancang sebuah
even musik yang di dalamnya para komponis musik klasik Itali dapat
lebih dekat dan makin dicintai oleh para pecinta musik klasik di
Indonesia. Sekalipun demikian, tidak dapat dilewatkan begitu saja,
peringatan 250 tahun komponis besar W. A. Mozart.
Maestro Carlo Zappa pemimpin orkes simfoni dan dosen pada konservatori
di kota Milan dengan penuh simpati sangat menyambut gagasan tersebut.
Bersama beliau, sampailah kami pada sebuah program yang dapat
menjelmakan ide-ide tersebut. Sebagai tanda solidaritas, usaha ini
akan dipersembahkan kepada yang menderita akibat bencana di Indonesia.
Curriculum Vitae Carlo Zappa (Conductor)
Pendidikan musiknya dimulai dengan menekuni di bidang piano dan
komposisi serta mendapatkan diploma dalam bidang trompet di bawah
bimbingan Prof. Vito Calabrese. Pada saat yang sama ia memulai
studinya di bidang conductor orkestra di bawah bimbingan Maestro
Franco Gallini dan dilanjutkan di bawah bimbingan Maestro Vittorio
Parisi hingga ia mendapatkan diplomanya pada Konservatori di kota
Milan.
Beberapa kursus penyempurnaan dalam opera liris yang diikutinya:
• Di kota Pescara pada Accademia Musica Pescarese di bawah bimbingan
Maestro Donato Renzetti
• Di kota Szeged (Ungeria) di bawah bimbingan Maestro Erven Azel
• Di kota Siena pada La Rinomata Accademia Chiciana di bawah bimbingan
Maestro Gianluigi Gelmetti, dengan menjadi conductor sebuah konser
bersama L’Orchestra del Festival di Sofia bersama Maestro Piotr Wollny.
Pada tahun 1991, ia memperoleh debutnya dalam L’ Histoire du Soldat
karya I. Stravinskij bersama dengan kelompok Instrumental I.
Stravinskij, yang dibentuk oleh anggota-anggota dari orkestra Teatro
alla Scala Milano.
Aneka orkes telah dipimpinnya, baik orkes kamar maupun orkes simfoni.
Diantaranya:
• Orkes Cantelli
• Orkes Milano Classica
• Ensemble Archi della Scala di Milano
• Orkes Kurt Sonnefeld.
Pada tahun tahun 2003, bersama dengan Orkes Filharmonis dari
Conservatorio di Milano memainkan Simphony No. 5 dari S. Prokofiev.
Sejak saat itu ia mendapatkan kepercayaan untuk secara teratur
memimpin orkes-orkes filharmonis pada konservatori di kota Milan. Ia
pun diangkat sebagai Direttore preparatore. Selain itu, ia juga
menjadi asisten dari Maestro Gustav Kuhn dan bekerjasama di dalam
produksi-produksi musikal bersama dengan Maestro Daniel Kawka, Roberto
Rizzi Brignoli, Gyrgy Rath. Beberapa karya musik telah menantinya pada
tahun ini, misalnya di Polandia bersama dengan La Cappela Cracoviensis
dan di Bolzano bersama dengan L’Orchestra Haydn.
PERJUMPAAN
BUDAYA
Perjumpaan antar budaya dapat menjadi sekedar soal perdagangan, tukar-menukar barang dan jasa, dapat pula menjadi kisah penaklukan dengan "pedang politik" atau bahkan benturan peradaban yang multi-dimensional. Namun perjumpaan itu bisa menjadi mata air yang memancarkan keindahan dan harmoni yang saling memperkaya. Puncak-puncak kebudayaan dapat mengadakan perkawinan, ber-"setubuh-sejiwa", sehingga dapat menjadi warisan peradaban dunia yang menyatukan segenap anak manusia di dunia. Dengan begitu, sekat-sekat yang dapat memisahkan manusia akibat identitas tiap kebudayaan dapat dijembatani.
Persis itulah yang direnungkan dan yang ingin dibagikan bersama oleh The Jakarta Symphony dan sahabat-sahabatnya pada ulang tahunnya yang ketujuh. Angka tujuh merupakan symbol kesempurnaan. Adapun gambaran tentang kesempurnaan dapat dikatakan bahwa aneka unsur terpadukan secara seimbang dan teratur, namun penuh dengan dinamika dan kreativitas. Itulah kesempurnaan dalam keklasikan. Justru pada saat The Jakarta Symphony merenungkan hal itu, Indonesia sedang didera terus-menerus oleh bencana alam, gempa, tsunami, gunung meletus dll. Wajah manusiapun menjadi lengkap: ada sisi keluhuran makluk manusia, namun terdapat juga fragilitas, kelemahan dan ketakberdayaan manusia.
Dengan mempertimbangkan perenungan tersebut, The Jakarta Symphony memberanikan diri membuat program yang sangat khas. Dua budaya akan dipertemukan: Indonesia dan Itali dengan mengundang guest conductor Carlo Zappa, dosen dan conductor pada konservatori di kota Milano. Undangan tersebut didasarkan atas kesadaran akan peran besar budaya Itali dalam pem"bidan"an dan proses menuju kedewasaan musik klasik. Sekalipun begitu, kita tahu bahwa sepanjang sejarahnya aneka budaya telah masuk ke dalamnya dan bersama-sama mengukir wajah musik klasik menuju splendor ordinis pantulan yang "Pulchrum", Sang Hyang Maha Indah: permainan antara yang matematis dan yang kreatif-bebas-nirbatas.
Pada bagian I dari pagelaran orchestra, berturut-turut akan ditampilkan Ouverture L'italiana in Algeri, karya G. Rossini dan Simfonia in Do Maggiore yang sering disebut Jupiter, karya W.A Mozart. Jika menyimak karya G. Rossini itu tampaklah pengolahan naratif yang memperoleh inspirasinya dari perjumpaan lintas budaya antara Italia dan Algeria. Sedangkan dengan ditampilkannya Mozart hendak digarisbawahi bahwa kepiawaian Mozart ditentukan juga oleh pengenalannya akan warisan keklasikan musik dalam budaya Itali. Dengan mahirnya Mozart menyusun karya tersebut menggunakan improvisasi dan kejutan-kejutan musikal yang merupakan perpaduan harmonis dari aneka budaya Eropa, khususnya Itali. Tidak mengherankan karena sejak usia yang sangat dini dia telah diminta untuk menimba ilmu musik dan tinggal di Itali selama bertahun-tahun.
Pada bagian II, ditampilkan dua tokoh musik Indonesia pada era Bintang Radio, yaitu Ismail Marzuki dengan karyanya, Bintang Sejuta, dan F.X. Sutopo dengan karyanya, Cintaku Jauh di Pulau yang dipimpin oleh seorang Itali, Carlo Zappa. Harapan yang terbersit dalam menampilkan karya komponis-komponis Indonesia adalah bahwa Indonesia pun dapat turut memberi sumbangan bagi bagi tumbuh-berkembangnya musik klasik, serentak pemilihan lagu-lagu Indonesia ini sebagai simbol jumpa budaya yang saling memperkaya. Ini bukanlah hal yang mustahil. Dalam sejarah musik klasik, kita berjumpa dengan tokoh Debussy Claude Achille (1862-1918) seorang impresionis dan dikenal sebagai bapak musik modern. Berkat pertemuan pertama kalinya antara Eropa dan gamelan yang diambil dari Group kesenian Kraton Surakarta pada masa Hindia Belanda dalam l'Exposition Universelle tahun 1889 di Paris, Debussy mendapatkan pencerahan yang mendalam atas aturan-aturan baku dalam musik klasik. Dengan hormat dan pujian yang tinggi dia mengapresiasi kekayaan tradisi musikal Jawa dan menggunakan unsur-unsur musik klasik Jawa ke dalam beberapa komposisinya. Perjumpaan itu juga mengubah paradigma tentang apa itu musik dan keklasikan. Padahal kita tahu gamelan mempunyai sistem tangga nada dan orkestrasi yang sama sekali berbeda dengan musik Eropa. Perbedaan lantas bukan menjadi kendala untuk sebuah perjumpaan otentik namun justru kekayaan yang menimbulkan pengaruh atau bahkan sintesis yang kreatif.
Karya lainnya yang ditampilkan adalah aria Nessun Dorma dari opera Turandot karya Puccini. Sekali lagi ini adalah simbol dari perjumpaan lintas budaya yang positif, khususnya antara Barat dan Timur. Dapatlah didengar dan dirasakan dalam Nessun Dorma, nuansa musikal dari negeri tirai bambu serta alur naratif kisah cinta yang berlatarbelakang kekaisaran Cina. Akhirnya kita kembali ke Mozart yang pada tahun itu seluruh dunia memperingati kelahirannya yang ke 250 tahun.
Apakah usaha yang bersifat kultural-musikal itu berhenti di sini saja? Kami yakin bahwa l'art bukan sekedar pour l'art. L'art perlu dikembalikan kepada manusia seutuhnya sebagai sang pemilik seni. Berkaitan dengan beruntunnya bencana alam di Indonesia, sebagaimana disebutkan di atas, usaha ini akan dipersembahkan bagi para korban bencana alam. Jadi selain ciri kultural-musikal ditekankan pula ciri humanitarian dan karitatif dari pagelaran orkes ini.
Akhir kata, atas nama The Jakarta Symphony kami megucapkan terima kasih yang tulus kepada Maestro Carlo Zappa, yang sejak awal mula menyambut secara positif gagasan ini kepada 3G-Indodias, sebuah kelompok "Indonesia dalam Diaspora", yang menjadi partner kami dalam bidang persahabatan lintas budaya, kepada Direktur Instituto Italiano di Cultura, Prof. Ostelio Remi, yang memberikan kontribusi pada sebagian dari seluruh proses publikasi, kepada para sahabat dari The Jakarta Symphony, kepada para donatur dan sponsor, serta para hadirin dan kepada siapapun juga yang tidak mungkin disebut satu per satu dalam tulisan ini. Semoga ramuan program ini dapat mempererat tali persahabatan antara Indonesia dan Itali dan menerangi wajah kemanusiaan.
Invitation
|