bahasa english stop music
HOMEHOME
Carlo Zappa dan The Jakarta Symphony
oleh: Suka Hardjana

Hanya ada satu bahasa yang tak memerlukan terjemahan: musik! Musik adalah bahasa nurani yang menghubungkan pemahaman dan pengertian antarmanusia di sudut-sudut ruang dan waktu, di mana pun kita berada: "Without music, life would be an error," kata Nietzsche. Pujangga besar Jerman itu benar. Tapi error itu kini terjadi di mana-mana, justru ketika sebagian dari padanya, musik itu sendiri telah menjadi error. Kenyataan ini menunjukkan betapa erat dan lekatnya hubungan antara esensi musik dan sifat-sifat kemanusiaan dalam konteks humanitarian.

Kurang lebih tujuh tahun lalu The Jakarta Symphony dibentuk dari puing-puing reruntuhan Orkes Simponi Jakarta yang tak tahan menghadapi benturan waktu dalam pelapukan zaman yang telah berlalu. Orkes bentukan baru ini diprakarsai oleh Kusherwanto dan beberapa orang eks pemain Orkes Simponi Jakarta yang karena nasib terlempar dari induknya yang cerai-berai tak tahan menghadapi tekanan keadaan. Sebagai sebuah orkes swadaya masyarakat, The Jakarta Symphony yang bersifat non profitable orchestra body memilih jalan baru sebagai orkes nonkomersial yang lebih banyak melakukan pendekatan pada usaha-usaha humanitarian seperti membantu pembangunan rumah-rumah ibadah, pendidikan dan pembangunan kecerdasan anak manusia melalui musik, peringanan penderitaan akibat bencana alam, dan sebagainya.

Maka, dalam konteks humanitarian antara sifat-sifat kemanusiaan dan esensi musik inilah eksistensi The Jakarta Symphony coba diperansertakan hingga hari ini. Artinya, atas nama dan untuk siapa musik itu dilantunkan. Ini menarik, karena ada pendekatan yang berbeda dalam upaya membangun sebuah orchestra body—tidak seperti orkes-orkes lain di Indonesia yang pada umumnya membangun sebuah mission populares dan bersifat semikomersial.

Dalam usianya yang masih sangat muda, tujuh tahun, dengan segala elan sukacita, tantangan dan cobaan, melalui konser-konsernya—orkes mini simponi berbasis kultur-humanitarian yang semula hanya beranggotakan 17 pemain itu—setapak demi setapak kini telah berhasil mengumpulkan berbagai standar repertoire musik yang cukup ragam, dari Haendel dan Vivaldi hingga Mozart – Haydn, Beethoven dan Tchaikowsky, dari Johann Strauss hingga Leonard Bernstein dan Andrew Lloyd Webber.

Sederhana saja, The Jakarta Symphony merangkak dari titik nol menuju ke sesuatu yang lebih berarti, sebagai prinsip ambisi kerja dan idealnya.

Carlo Zappa dari Milano

Carlo Zappa adalah seorang maestro musik dari kota Milano, Italia utara. Dia adalah seorang dirigen kenamaan dari berbagai orkes di dalam dan luar Italia. Prof Zappa adalah juga seorang pedagog musik pada konservatorium musik Milano. Reputasi dan kumulasi pengalaman musiknya membawa dia ke Indonesia untuk membantu membangun The Jakarta Symphony yang masih imut-imut dan perlu sentuhan tangan-tangan dingin dari para musisi yang kompeten di bidangnya.

Selama sepekan ia berada di Jakarta untuk bekerja dengan para pemusik dari Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung yang tergabung dalam The Jakarta Symphony. Berlatih ketat selama lima hari dan memberi konser dua malam di Usmar Ismail Hall Jakarta. Hasilnya lumayan menggembirakan.

Seingat saya, belum pernah ada orkes simfoni di Indonesia memainkan repertoire musik klasik Eropa dengan pendekatan benar dan sebaik itu, kecuali dulu di akhir tahun 1950-an ketika Radio Republik Indonesia mengumpulkan seluruh pemain musiknya di Indonesia untuk membentuk sebuah orchestra training dalam format orkes simfoni besar di bawah konduktor Amerika, Dr Willer Becket, dan memberi konser dua kali dengan tajuk Dedication to Indonesia di Yogyakarta. Sesudah itu yang berkembang justru hal sebaliknya.

Dengan beralihnya peran media dari radio ke televisi dan teknologi rekam pita suara dan video, kemudian keping CD-VCD, orkes-orkes studio radio berguguran satu per satu. Berulang kali para pemusik "klasik" dan simpatisan dengan gagah berani membentuk berbagai orkes dan ensemble kecil, tapi gagal hidup berlanjut. Salah satu persoalan pokoknya yang paling mendasar terletak pada masalah cara bagaimana mengoperasikan manajemen orkestra dan cara bagaimana sesungguhnya khazanah-khazanah repertoire musik klasik—sesungguhnya secara kultural asing bagi kita orang Indonesia—harus didekati dengan cara yang benar dan baik menurut standar (internasional) yang bisa diterima.

Dalam hal musik klasik (Barat-Eropa), orkes-orkes musik di Indonesia pada umumnya masih berada pada tahap tekstual. Artinya hanya sampai sebatas pada membaca (memainkan) apa yang tertulis. Belum sampai pada penekunan dan pendalaman yang bersifat kontekstual dan kontenstual. Hal-hal paling wigati (esensial) menyangkut tafsir (interpretasi) musik dalam bobot dan isi (konteks dan kontens) jauh masih sangat terabaikan.

Penyebab utamanya bukan hanya terletak pada kesinambungan mutu training musik, tetapi juga sangat tertinggalnya studi akademik menyangkut karya-karya musik yang telah lama menjadi sejarah sebagai "situs budaya", maupun karya-karya baru yang sebenarnya tidak sama sekali lepas dari sejarah waktu (Boulez).

Artinya, karya-karya musik itu tidak cukup hanya dibaca (notasi) lalu dimainkan (denotasi) sekadar sebagai pengucapan ekspresi diri. Cara ini—suatu keterbelakangan yang masih terus berlanjut dalam konteks permainan orkes (orchestra playing) di Indonesia—sangatlah tidak memadai. Harus ada progresi pengembangan orkes melalui pendekatan cara-cara baru yang mencerahi agar wajah, sosok, dan watak orkes-orkes di Indonesia berubah dan dapat diterima menurut ukuran-ukuran kepatutan standar mutu budaya orkes di mana pun ia berada.

Pencerahan dan "kepatutan standar mutu budaya orkes" inilah yang disumbangkan oleh Prof Carlo Zappa kepada The Jakarta Symphony dalam kerja kerasnya selama sepekan di Jakarta. Kontribusi kulturalnya telah menimbulkan kesan yang sangat mendalam pada para pemusik, penonton, dan penyelenggara.

Mozart dan Rossini

Pada hari pertama latihan, saya diminta mengamati sejenak, bagaimana latihan musik itu berlangsung. Seperti orkes-orkes lainnya di Indonesia, latihan awal itu masih tampak gaduh dan amburadul. Tetapi, tampak ada kesan yang cukup menjanjikan bahwa maestro Zappa dengan sabar dan penuh pengertian bak seorang pematung, pelan-pelan mencoba memahat batu (orkes) dalam ujudnya yang secara wadak mulai membentuk.

Ini latihan awal yang signifikan: "Saya optimis, kali ini," kata saya kepada Rm Kusherwanto, pendiri orkes ini. Sebuah Ouverture dari opera L’Italiano in Algeri karya G Antonio Rossini (1792-1868) diambil oleh Zappa untuk mengawali latihan orkes simfoni dalam format klasik dengan 40-an pemain. Sebuah warming up latihan yang tepat.

Pendekatan Zappa pada orkes tampak cukup personal, rinci, efektif—dan melalui gestur, mimik dan panduan aba-aba conductorship-nya yang jelas—pesan-pesan arah gerakan musiknya mudah dan sangat jelas untuk diikuti pemain. Hal paling mendasar dan pasti dalam metodologi kepemimpinan yang harus dimiliki oleh seorang dirigen untuk mencapai efektivitas latihan dan hasil paling maksimal dalam performa seni pertunjukan musik orkes simfoni.

Saya terpana ketika kembali lagi pada hari ketiga latihan. Zappa mengambil Haffner dan Jupiter Simponi karya WA Mozart (1756-1791) sebagai materi lanjut latihan. Orkes itu 180 derajat telah berubah total dalam segala sosok dan dimensinya sebagi organ ensemble musik kolektif yang harus bermain "bareng" dalam segala detailnya. Sosok bentuk dan konturnya jelas, artikulasi ucapan-ucapan musik interplay-nya runtut dan mudah diikuti telaah dengar (didengar), presisi pendekatan tempo Mozart-nya (hal paling pelik dalam musik Mozart) mendekati ketepatan gaya pulsasi musik sang genius itu.

Tampak bahwa orkes ini telah bergerak semakin jauh dalam horizon pengucapan dinamik, harmoni suara (balance) dan berbagai detail "pakem" pengucapan gaya permainan musik Mozart. Memang masih ada berbagai soal wigati dalam hal intonasi, kesinambungan antar-passage musik, proporsi dinamik suara dan adaptasi gaya-gaya musik menurut pendekatan pribadi, citra zaman, karya dan komponisnya. Tapi, saya pikir, maestro Zappa "masih punya waktu dua hari" untuk merampungi tugasnya.

Waktu yang sungguh tidak memadai untuk mencapai hasil yang paling sempurna. Tapi, apa dibilang? Pada geladi resik menjelang konser, semua yang diperlukan untuk sebuah sosok orkestra yang memenuhi syarat "kepatutan mutu budaya orkes" telah tersedia di sana. Di atas pentas orkes itu telah "berbunyi" sebagaimana sebuah instrumen musik besar dengan segala pelik lika-liku konfigurasi struktural orkes dalam bermain dan menafsirkan karya musik dalam konteks budaya dan sejarah.

Di tangan Carlo Zappa, dalam waktu singkat, semua telah terjadi dan berubah. Sungguh sebuah durasi waktu yang sangat pendek untuk sebuah kerja berat yang secara potensial bisa melahirkan sebuah prestasi besar.

"Ternyata bukan hanya David Coperfield yang mahir main sulap, tetapi juga Carlo Zappa," komentar saya kepada ketua penyelenggara konser ini, Padre Y Sulistiadi. Bedanya, David Coperfield adalah seorang illusioner, Carlo Zappa adalah kenyataan.

Konser yang mengesankan

Pekan lalu (20 dan 21 Oktober) maestro Carlo Zappa telah memandu konser The Jakarta Symphony dalam sebuah urutan standar repertoire musik klasik yang tidak enteng. Di samping Ouverture Rossini L’Italiano in Algeri yang ceria dan menggugah, dua karya puncak Mozart, Haffner dan Jupiter Simponi yang cukup pelik untuk ditafsirkan kembali, ada juga nomor vokal yang dibawakan oleh penyanyi tenor Christopher Abimanyu dalam lagu Bintang Sejuta karya Ismail Marzuki (1914-1958), Cintaku Jauh di Pulau karya FX Soetopo (1937-2006), dan Nesum Dorma, sebuah aria dari opera Turandaot karya G Puccini (1858-1924).

Walaupun masih ada ulah kesalahan kecil-kecilan (sang tenor mendahului masuk 1 bar sebelum waktunya...) dan berbagai problematika pangkal permainan musik klasik di sana-sini, tetapi hal itu— dibanding dengan hasil yang telah dicapai dalam kerja keras selama sepekan—hanyalah sebuah bagatele. Kekurangan kecil yang masih bisa dimengerti dan dimaafkan. Selebihnya adalah sebuah konser dua malam The Jakarta Symphony di bawah panduan Prof Carlo Zappa yang mengesankan.

Sebuah kerja awal sebagai penyambung jembatan budaya Indonesia-Italia yang sangat baik dan fundamental, di mana kualifikasi mutu yang lebih baik bisa dikembangkan lebih lanjut dari sini. Saluto untuk maestro Carlo Zappa dan The Jakarta Symphony.

Suka Hardjana
Musikus

Sumber: Kompas, 29 Oktober 2006, hal 20


***

index news
ABOUT US
The Jakarta Symphony

CONDUCTOR
Juhad Ansyari

PERFORMERS
Carlo Zappa, Giuseppe Bellanca, Monica Bozzo, Aisha Ariadna Pletscher

PACKAGES
Trio, Quartet, Quintet, Sextet, Septet, Oktet, Chamber, Orchestra

SONGS LIST
Our songs list for wedding & family occasion, bussiness, concert

INVITATION
Invitation and reservation

CONTACT
The Jakarta Symphony
Production

 © 2006-2009 The Jakarta Symphony
powered by: CP