 |
The Jakarta Symphony: Perpaduan Indonesia-Italia Kompas Cyber Media
JAKARTA, KCM - Perjumpaan budaya dapat sekadar berarti tukar-menukar barang dan jasa, dapat pula berupa kisah penaklukan dengan "pedang politik" atau bahkan benturan peradaban yang multi-dimensional. Namun, perjumpaan itu bisa pula menjadi mata air yang memancarkan keindahan dan harmoni yang saling memperkaya.
Puncak-puncak kebudayaan dapat mengadakan perkawinan, ber-"setubuh sejiwa", sehingga dapat menjadi warisan peradaban dunia yang menyatukan segenap anak manusia di dunia. Dengan begitu, sekat-sekat yang dapat memisahkan manusia akibat identitas tiap kebudayaan dapat dijembatani.
Demikian renungan yang ingin dibagikan The Jakarta Symphony (TJS) pada ulang tahunnya yang ketujuh. TJS akan mengelar konser bertajuk "Musica dall’Italia" (Musik dari Italia) di Usmar Ismail Hall, Rasuna Said, Kuningan, 20 dan 21 Oktober 2006. Dua budaya akan dipertemukan: Indonesia dan Italia dengan mengundang konduktor tamu Carlo Zappa, dosen dan konduktor pada konservatori di kota Milano.
"Undangan tersebut didasarkan atas kesadaran akan peran besar budaya Itali dalam pem-’bidan’-an dan proses menuju kedewasaan musik klasik. Sekalipun begitu, kita tahu bahwa sepanjang sejarahnya aneka budaya telah masuk ke dalamnya dan bersama-sama mengukir wajah musik klasik menuju permainan antara yang matematis dan yang kreatif-bebas-nirbatas," papar Ketua Panitia, Yustinus Sulistiadi, Rabu (18/10), di Jakarta.
Konser TJS akan terdiri dari dua bagian. Pada bagian I berturut-turut akan ditampilkan Ouverture L’italiana in Algeri, karya G. Rossini dan Simfonia in Do Maggiore yang sering disebut Jupiter, karya W.A Mozart. Jika menyimak karya G. Rossini ini tampaklah pengolahan naratif yang memperoleh inspirasinya dari perjumpaan lintas budaya antara Italia dan Algeria.
Sedangkan pada Mozart hendak digarisbawahi kepiawaiannya memahami warisan klasik musik budaya Italia. Dengan mahirnya Mozart menyusun karya tersebut menggunakan improvisasi dan kejutan-kejutan musikal yang merupakan perpaduan harmonis dari aneka budaya Eropa, khususnya Italia.
Pada bagian II, akan ditampilkan dua tokoh musik Indonesia pada era Bintang Radio, yaitu Ismail Marzuki dengan karyanya, Bintang Sejuta, dan F.X. Sutopo dengan karyanya, Cintaku Jauh di Pulau. Carlo Zappa yang orang Italia akan tetap memegang tongkat konduktor pada bagian II ini.
Menurut Sulistiadi, ditampilkannya karya musisi Indonesia dan dunia dalam satu pagelaran selain sebagai simbol jumpa budaya juga membersitkan harapan musik klasik dapat berkembang dalam warna khas ke-Indonesia-an.
"Ini bukan mustahil lho. Claude Achille Debussy (1862-1918) seorang impresionis dan dikenal sebagai bapak musik modern mengapresiasi gamelan Group Kesenian Kraton Surakarta pada masa Hindia Belanda. Dalam l’Exposition Universelle tahun 1889 di Paris, Debussy mendapatkan pencerahan yang mendalam atas aturan-aturan baku dalam musik klasik," ungkapnya.
Achille, lanjut Sulistiadi, memasukkan unsur-unsur musik klasik Jawa ke dalam beberapa komposisinya. "Padahal kita tahu gamelan mempunyai sistem tangga nada dan orkestrasi yang sama sekali berbeda dengan musik Eropa. Perbedaan lantas bukan menjadi kendala untuk sebuah perjumpaan otentik namun justru kekayaan yang menimbulkan pengaruh atau bahkan sintesis yang kreatif," ujarnya.
Karya lainnya yang ditampilkan dalam konser ini adalah Nessun Dorma dari opera Turandot karya Puccini. Karya ini juga merupakan simbol dari perjumpaan lintas budaya yang positif, khususnya Barat dan Timur. Simaklah Nessun Dorma yang mengalun dalam nuansa musikal negeri tirai bambu serta alur naratif kisah cinta yang berlatarbelakang kekaisaran China.
The Jakarta Symphony mempunyai kaitan historis dengan Orkes Simponi Jakarta tempo doeloe. Group ini berawal dari pertemuan tokoh-tokoh musik era 70-an antara lain Tony Suwandi, Embong Rahardjo (alm), Suka Hardjana, Suwanto Suwandi, Sudomo (alm), Nursyiwan Lesmana, F.X. Sutopo (alm), Amir Katamsi dan kawan-kawan lainnya.
Bersama F. Kuswardianto, kelompok itu memberi nama baru pada Orkes Simponi Jakarta yang legendaris itu, yakni The Jakarta Symphony (www.thejakartasymphony.com). Bergabung pula beberapa Musisi Muda Indonesia berbakat lainnya, seperti: Juhad Ansari, Didiek SSS, Bambang Suardi, Erfy Larasati, Yunus, Gatot Soebiono, Nur Samsi, Prima Muchlisin, Asmoro, Anna Prapti, Budi Soewarno, Irma Manurung, Juzan dan Rahmat, Ni Gusti A.K. Kadensi, dan Gatut Santoso.
Penulis: Mbk
sumber: Kompas Cyber Media, 18 Oktober 2006
***
index news
|
|
ABOUT US
The Jakarta Symphony |
|
CONDUCTOR Juhad Ansyari |
|
PERFORMERS Carlo Zappa, Giuseppe Bellanca, Monica Bozzo, Aisha Ariadna Pletscher |
|
PACKAGES Trio, Quartet, Quintet, Sextet, Septet, Oktet, Chamber, Orchestra |
|
SONGS LIST Our songs list for wedding & family occasion, bussiness, concert |
|
INVITATION Invitation and reservation |
|
CONTACT The Jakarta Symphony
Production |
|
|